Saya Menginginkan GNU/Linux Seperti Macintosh

Kata “menginginkan” di atas dititikberatkan pada kepopulerannya sebagai operating system yang selalu dinanti serta mampu mengusung fitur melimpah pada hardware yaitu jenis desktop dan notebook (laptop).

Coba saja kita lihat produk Apple untuk jenis desktop seperti iMac dan MacPro, serta notebook seperti MacBook Pro dan MacBook Air yang begitu cantik, garang dalam hal kinerja, baik dari segi operating system, banyaknya aplikasi pendukung serta hardware yang khusus dibuat untuk mewujudkan itu semua. Khususnya masalah ketahanan daya (power) serta ramah lingkungan.

GNU/Linux selama saya mengamatinya, memposisikan seperti Microsoft yaitu pemasok operating system dan aplikasi saja yang cocok untuk segala macam jenis dan merk hardware yang ada di pasaran. Dengan lisensi kernel Linux GPL, siapa saja berhak “mengoprek” dan meramu dengan aplikasi apa saja yang ada disesuaikan dengan kebutuhan si peramunya. Dimana kebutuhan si peramu belum tentu sama dengan kebutuhan pengguna (user) akan menjadi permasalahan tersendiri.

Frase “Tidak ada lawan dan kawan abadi, cuma kepentingan yang abadi” sepertinya dijalankan secara cerdik oleh Apple (Steve Jobs) dalam mensikapi permusuhannya (persaingan) dengan Microsoft (Bill Gates).

Mungkin kita semua tahu, bagaimana dulu Apple lebih dulu terkenal dibanding Microsoft, hingga akhirnya Microsoft “menggunting dalam lipatan” meninggalkan Apple, hingga akhirnya Apple mendepak Steve Jobs dan seiring waktu Apple-pun collaps.

Hingga pada tahun 1997 pada acara Macworld di Boston merupakan titik balik Apple dan Steve Jobs, dan membawa kesuksesan hingga sekarang ini.

Di acara tersebut, Steve Jobs membawa rombongan Direksi dari perusahaan terkenal, dan yang paling mengejutkan adalah disertakannya Microsoft (Bill Gates) pada titik balik tersebut. Yaitu Microsoft menyertakan sahamnya di Apple senilai $50juta dan tidak boleh dialihkan (dijual) oleh Microsoft selama 3 (tiga) tahun. Lalu dimasukkannya web browser Internet Explorer (versi 4-5) ke dalam Macintosh serta Microsoft Office (produk yang paling banyak dipakai hingga kini).

Walau Apple dan Microsoft saling berseteru dalam hal marketing operating systemhardwaresoftware – layanan musik – dll, namun mereka tetap akur dalam hal lainnya seperti masih disediakannya aplikasi Microsoft Office for Mac. Mungkin Apple pun menyadari, betapa banyak pengguna komputer masih bergantung pada aplikasi perkantoran buatan Microsoft tersebut. Dan Apple pun tidak mempermasalahkan hal itu, walau sudah tersedia seperangkat aplikasi serupa yaitu iWork pada iMac – MacBook Pro dan Air – MacPro.

Bagaimana dengan GNU/Linux yang bertebaran jenis distronya???

Saya pribadi melihat, ada pihak yang memposisikan GNU/Linux sebagai oposisi sejati atas produk Microsoft dan Apple.

Dengan issue berapa banyaknya devisa yang harus dibayar ke pihak Microsoft (yang terkenal dengan mahalnya biaya lisensi per PC) serta mengusung issue sudah tersedianya aplikasi pengganti (substitusi) atas aplikasi buatan Microsoft.

Sebut saja OpenOffice (yang kini kebanyakan distro beralih ke LibreOffice) yang disebut-sebut sebagai pengganti aplikasi Microsoft Office. Dengan perolehannya yang gratis dan didukung oleh pengembang di seluruh dunia, OpenOffice (LibreOffice) diharapkan bisa membujuk pengguna yang sudah tergantung dengan Microsoft Office.

Namun apakah usaha ini berhasil???

Tentunya ada dampak keberhasilannya. Tapi apakah serta merta mampu membuat seluruh pengguna beralih???

Jawabannya tidak.

Pengaruh yang paling utama adalah faktor kebiasaan, lalu fitur yang diusung oleh aplikasi pengganti tersebut. OpenOffice (LibreOffice) secara default mengusung tampilan Microsoft Office 2003, dimana kebanyakan pengguna sekarang sudah menggunakan Microsoft Office 2007 dan Microsoft Office 2010 (untuk Mac adalah Microsoft Office 2011).

Dari tampilan yang masih sederhana dengan “mempertahankan” Microsoft Office 2003 pada OpenOffice (LibreOffice) jelas sudah mempengaruhi kebiasaan pengguna. Dan tentunya akan berdampak pada kinerja pengguna.

Lalu fitur lainnya bagaimana?

Yang paling jelas sekali adalah keindahan untuk aplikasi presentasi yaitu Microsoft PowerPoint yang menang telak atas OpenOffice.

Sebenarnya Microsoft PowerPoint pun kalah dengan aplikasi KeyNote (bagian dari iWork) dari Apple, yang begitu indah dan mempesona dan didukung fitur yang tidak diduga oleh siapapun. Namun Apple tetap mengizinkan Microsoft (atau mungkin meminta Microsoft) untuk memasok dalam platform Macintosh.

Bagi saya, tindakan Apple atas sikapnya terhadap Microsoft sungguh tepat.

Mungkin seharusnya GNU/Linuxpun bisa mengikutinya.

Mengapa tidak GNU/Linux meminta Microsoft menyediakan Microsoft Office for Linux?

Mengapa tidak GNU/Linux meminta para pengembang game menyediakan game mereka dalam platform GNU/Linux dengan teknologi openGL-nya (yang tidak terkekang dengan DirectX Microsoft)?

Mengapa tidak GNU/Linux bekerja sama dengan vendor ternama membuat desktop dan notebook yang diformulasi khusus layaknya iMac dan MacBook (Pro-Air)?

Mengapa tidak GNU/Linux menghadirkan operating system yang begitu indah – cantik serta telah memiliki segudang fitur layaknya iWork dan iLife dari Apple?

Pertanyaan di atas sebenarnya hadir dari harapan saya terhadap GNU/Linux yang sudah lama saya gunakan. Distro yang saya gunakan pertama kali adalah Mandrake (sekarang Mandriva) 8.0-10.0, lalu SuSE Profesional 9.1-9.3, openSuSE 10-10.3, K/Ubuntu versi 6-10.04, LinuxMint.

Coba saja lihat, betapa banyaknya operating system yang saya coba dan gunakan, bahkan mampu mengalahi penggunaan Microsoft Windows XP yang begitu ajeg dan tidak pernah saya ganti-ganti selama 7 (tujuh) tahun.

Apakah dengan penggunaan saya atas beragam distro tersebut lancar?

Tentu saja tidak.

Harga yang saya bayar atas penggunaan GNU/Linux pertama kali adalah kehilangan data pada harddisk, baik itu pada desktop maupun notebook (Acer Aspire). Lalu merusak DVD rom kantor karena ketidakcocokan kernel Mandrake dengan DVD rom.

Lalu kehilangan seluruh data pada pc kantor pada saat mencoba install setelah sukses pada desktop-notebook rumah. Hehehe…

Setelah GNU/Linux ter-install pada desktop-notebook rumah dan kantor, apakah saya bisa langsung bekerja secara optimal?

Jawabannya tidak lagi.

Ternyata pekerjaan saya baik di rumah dan kantor “sangat tergantung” pada Microsoft Windows di mana terdapat aplikasi khusus yang hanya bisa digunakan pada platform tersebut. Jiangkrik!

Untuk tugas pengetikan maupun spreadsheet pun menjadi kendala tersendiri. Banyak rekan kantor yang protes begitu menggunakan pc desktop yang saya gunakan, karena “aneh sendiri” dan mereka kesulitan mengerjakan laporan kantor pada OpenOffice. Terlalu banyak seting layout yang harus dilakukan, plus akan memakan banyak waktu disaat pekerjaan ditunggu dalam waktu yang ditentukan. Walah…

Lalu yang tidak kalah seru adalah masalah dukungan driver hardware pada tiap-tiap distro yang berbeda. Dari sekian banyak distro yang beredar, saya berani menjamin bahwa openSUSE adalah distro yang paling banyak mendukung hardware beragam vendor ternama maupun abal-abal.

Kalaupun sudah didukung oleh kernel distro apakah bisa langsung berfungsi?

Jawabannya tidak lagi. Hehehe…

Ada yang harus diutak-atik lagi pada setingan operating system yang menanganinya seperti masalah tampilan layar (nVidia atau AMD Radeon), suara dan wifi.

Coba saja Anda bayangkan, berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk sekedar menggunakan GNU/Linux pada desktop dan note/netbook yang begitu beragam di dunia ini.

Buat kita yang terbiasa on the go, jelas penggunaan GNU/Linux bukan suatu penawaran yang baik. Dan inilah yang diambil oleh Apple, begitu out of the box, segalanya sudah siap untuk diajak tempur.

Kita sudah tidak memikirkan masalah kompabilitas kernel-hardware, dukungan aplikasi yang dibutuhkan untuk bekerja, dukungan layanan purna jual yang jelas begitu timbul permasalahan pada hardware maupun software (Apple menghadirkan Genius untuk membantu pengguna produk Apple). Dan ini yang belum bisa dihadirkan oleh GNU/Linux.

Setiap permasalahan yang ada kita dibiasakan mencari jawabnya terlebih dulu, yang biasanya membutuhkan koneksi internet. Pencarian jawabpun diarahkan untuk masing-masing distro yang sedang digunakan. Kalau ada waktu silakan oprek sendiri dan menjadi pintar, atau minta tolong teman yang telah menggunakan distro yang serupa.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk masalah tersebut???

Untuk pekerjaan yang berbasis web, tidak ada masalah yang berat. Tapi atas pekerjaan yang membutuhkan aplikasi khusus?

Solusinya kita bisa install Microsoft Windows secara utuh pada GNU/Linux menggunakan aplikasi vmware atau Virtualbox, atau install aplikasi secara parsial untuk Mirosoft Office saja yaitu menggunakan wine atau CrossOver dari Codeweaver. Berbayar? Tak masalah. Sepanjang kita bisa bekerja dan tidak melakukan pembajakan.

Tapi kalau kita dihadapkan dengan masalah berapa banyak uang yang harus dibayar kepada Microsoft serta aplikasi lainnya yang berbayar, menurut saya ini akan membuat GNU/Linux semakin dihindari oleh pengguna awam yang notabene adalah pengguna mayoritas.

Mengapa tidak kita bersikap seperti Steve Jobs terhadap Microsoft sehingga malah bermanfaat untuk kesuksesan Apple dan Macintosh-nya???

GNU/Linux kini sedang naik pamor dengan hadirnya operating system yang bernama Android hasil “oprekan” google untuk platform smartphone dan tablet. Banyak yang tahu kalau Android adalah operating system yang menggunakan kernel linux dan sangat mudah untuk dimodifikasi bagi yang mampu atau yang menyukainya. Dan banyak produsen ponsel dari yang merk papan atas seperti HTC – Sony Ericsson – Motorola (yang diakuisisi Google) – Samsung (rajanya jenis ponsel Android), mereka mampu menghadirkan operating system Android (GNU/Linux) pada perangkat telepon (smartphone) dan menghasilkan produk yang luar biasa canggih.

Pada ponsel ber-OS Android, seluruh fitur yang ada pada ponsel (sesuai spesifikasi pabrik) siap digunakan begitu out-of-the box. Kita tidak dihadapkan dengan ketidakcocokan kernel – driverhardwaresoftware dari smarphone. Lalu kenapa untuk GNU/Linux pada desktop – Note/Netbook tidak dihadirkan kemudahan yang serupa???

Kalau hanya issue banyaknya harga atau devisa yang harus dikeluarkan, menurut saya, dengan membanjirnya ponsel (ber-OS) Android dengan harga premium sudah tidak bisa lagi digunakan sebagai alasan orang “menjauhi” produk Microsoft dan atau Apple. Harga smartphone ber-OS Android yang ada sekarang ini sudah melampaui harga Note/Netbook.

Yah… ini cuma tumpahan pemikiran saya.

Semoga GNU/Linux memiliki kedudukan yang sama seperti halnya OS Android mampu bersaing dengan iOS – Symbian – QNX (BB) dalam platform mobile, dan banyak orang orang yang memakai GNU/Linux tahu bahwa OS satu ini tidak kalah (bahkan melebihi) dari Windows dan Macintosh.

16 thoughts on “Saya Menginginkan GNU/Linux Seperti Macintosh

  1. mautauaja

    @ Asop
    OpenOffice dan LibreOffice juga tersedia di PC dan MacBook Pro saya.
    Hanya saja, lebih dominan penggunaannya pada microsoft office dibanding iWork. Hehehe…

    Reply
  2. Penulis

    Bang, saya mau sharing sedikit info. Menurut buku biografi Steve Jobs karya Walter Isaacson, ternyata dulu itu yang punya kemampuan membuat sistem operasi berbasis grafis “dengan benar” adalah Apple. Memang yang pertama membuat adalah Xerox, kemudian Apple, lalu Microsoft.

    Yang menarik adalah, Microsoft kewalahan dan masih tidak mampu membuat GUI sebagus di Apple. Nah, “curangnya” Bill Gates, dia menekan Apple untuk memberikan hak kepada Microsoft untuk menerapkan sistem kerja GUI sistem operasi Macintosh di Windows. Kenapa Apple kalah ketika ditekan? Karena Microsoft mengancam akan menghentikan release Microsoft Office untuk Mac. Apple mengalah karena Microsoft punya kartu as itu. Karena itu, Steve Jobs yang tau sejarah Microsoft Windows selalu menganggap Windows itu tiruan dan “pencurian ide” dari Mac OS.

    Begitu juga dengan Android, Eric Schmidt yang dilunya salah satu direktur di Apple, akhirnya menyeberang ke Google. Dengan modal pengetahuan tentang iOS di Apple, dia juga membuat Android. Steve Jobs pun kecewa dan menganggap Android itu “barang curian”.

    Kalau dengan cerita seperti itu, saya setuju dengan Steve Jobs.

    Reply
    1. mautauaja

      Berdasarkan bukunya Walter Isaacson, usaha Microsoft untuk bisa menampilkan GUI pada Windows mulanya gagal. Booming Windows dimulai dari Windows 3.1. Sebenarnya Microsoft sudah “meminta izin” kepada Steve untuk menghasilkan OS serupa dengan Mac, dan ditentukanlah waktu 3 tahun untuk waktu peluncuran Windows.
      Pemikiran Steve Jobs waktu itu, Macintosh dapat diluncurkan tepat waktu atau dengan kata lain dapat diperkenalkan ke publik sebelum waktu 3 tahun. Ternyata, Apple sendiri banyak menemukan kendala, hingga begitu waktu 3 tahun itu terlewat dan Macintosh belum diluncurkan, Microsoft berani merilis Windows.

      Reply
  3. Ade Malsasa Akbar

    Ah, gila. Saya punya akun di semua komunitas Linux di Indonesia. Saya sudah membaca hampir semua tulisan warga lama Linux Indonesia. Namun saya baru hari ini temukan tulisan, tulisan, sebaik ini. Baik dari sisi orisinalitas ide, sisi pengungkapan gagasan, tata bahasa, maupun komentar yang muncul (terlepas dari kekurangannya). Saya belum pernah bertemu nama berly di komunitas. Ide-ide membangunnya sangat bagus. Saya butuh waktu untuk bisa berkomentar.

    Reply
  4. Ade Malsasa Akbar

    Bagus sekali, Kang. Saya memang butuh waktu untuk membaca keseluruhan posting. Ini sangat menggembirakan saya. Saya tambah senang karena saya kini merasa semakin tak sendiri.

    Yang pertama kali saya rasa, kalau memang Linux ingin ditarik menyaingi Windows/Mac OS, maka harus didukung semua produsen hardware. Ini harus. Silakan akang baca literatur manis ini: http://www.wikivs.com/wiki/Apple_Innovation_vs_Microsoft_Innovation. Yang kedua, aplikasinya. Harus dibuat betul-betul aplikasi yang dibutuhkan oleh semua orang. Persis seperti apa yang akang bilang mengenai Microsoft Office. Apple saja menelan ludah, bagaimana dengan komunitas Linux? Sangat jauh.

    Yang penting saya memperoleh pengetahuan baru dari akang. Banyak sekali. Dan sungguh berkilau-kilauan. Saya senang. Saya Ctrl+S laman ini.

    Masih banyak yang harus saya katakan mengenai ini. Saya sudah tidak meragukan kalau akang punya pemikiran open yang sesungguhnya, bukan open abal-abal ala sebagian warga komunitas kita. Maaf-maaf saja. Sudah lama sekali saya menunggu untuk menemukan orang seperti ini. Kalau akang tidak sibuk, saya ingin mengobrol di kanal #ubuntu-indonesia. Kapan saja.

    Reply
    1. mautauaja

      Maaf sekali kepada Mas Ade Malsasa Akbar, karena baru pada malam ini saya tuliskan tanggapan. Selain sibuk, juga grogi akan menulis apa sebagai tanggapannya. Hehehe…
      Latar belakang penulisan lawas ini adalah hasil perbandingan saya pribadi dimana saya pribadi telah menggunakan beberapa gadget (baca : smartphone) serta pc (baca : OS Windows-GNU/Linux-OS X).
      Saya hingga kini lebih dominan menggunakan OS Windows karena memang tuntutan pekerjaan di kantor yang sudah berbaik hati menyediakan sarana yang seragam untuk seluruh pegawainya.
      Untuk pribadi saya menggunakan 2 (dua) OS yaitu Windows dan OS X (pada MacBook Pro 13″).
      Bagaimana dengan GNU/Linux?
      Sejak laptop Acer Aspire saya hancur lebur dibagian engsel monitor sehingga mempengaruhi hardware lainnya, terpaksa saya tidak gunakan lagi. Sayang memang. Laptop tersebut betul-betul berjasa bagi saya mengenal GNU/Linux sehingga menanam kesan yang mendalam.
      Smartphone pertama kali yang saya miliki adalah ponsel Cina ber-merk Asiafone dan G-Star. Windows Phone yang saya gunakan adalah Samsung Omnia Pro B7320 (http://b312ly.blogspot.com/2010_05_01_archive.html). Terakhir hingga kini saya menggunakan iPhone 4.
      Untuk OS Android saya miliki New Smartfren Android Tab 7″.
      Dari semua perangkat tersebut di atas, maka terlahirlah tulisan pada blog ini. Sebenarnya saya menaruh harapan besar terhadap GNU/Linux. Sudah banyak instansi besar menggunakan GNU/Linux, seperti NASA-Google-industri perfilman Hollywood. Bagaimana di Indonesia?
      Bila diperhatikan pada masa sekarang, grafis GNU/Linux dimulai dari proses install hingga siap digunakan, sunguh-sungguh sangat cantik. Beda jauh di saat saya pertama kali coba-coba menggunakan GNU/Linux pada tahun 2008-2010.
      Proses install yang sangat transparan, widget yang berlimpah ruah, Windows-pun harus bertekuk lutut di hadapan desktop environment GNU/Linux. Tapi kalau kita tandingkan dengan OS X, justru desktop environment GNU/Linux terlalu sangat ramai.
      Sebagai penutup tanggapan saya, sinergi beragam OS dan aplikasi khusus dalam memenuhi kebutuhan kita jikalau dipandang perlu ya sudah… gunakan saja. Yang penting tidak boleh menggunakan OS-software bajakan.
      Tidak usah kita pandang sebagai musuh abadi. Malah capek sendiri.
      Toh pada agama kita yaitu Islam mengajarkan kehidupan yang damai.
      Umat muslim itu diibaratkan sebagai lebah yang bermanfaat.

      Reply
      1. Ade Malsasa Akbar

        Tidak mengapa, Kang. Kapan pun, kalau itu tanggapan dari akang, saya tunggu.

        Menggunakan OS atau hardware apa pun adalah hak akang. Ini yang saya kira sering dilanggar orang yang mengaku berkaitan dengan ‘free software’ dan ‘freedom’. Bukan freedom jika seseorang tidak boleh memakai software yang dia butuhkan, dan bukan freedom namanya kalau seseorang tidak bisa menjalankan hardware yang sudah dia beli. Maka lack of FOSS ada di 2 hal ini, menurut saya. Freedom bagi saya juga termasuk free dari konfigurasi yang bertele-tele. FOSS belum benarbenar memiliki freedom versi saya ini. Ini freedom yang sebetulnya paling cocok untuk konsumen (baca: newbies dan pengguna nonsysadmin). Saya menggunakan FOSS karena Islam, dan saya bisa merasakan kebenaran kata-kata akang “…malah capek sendiri…” karena itu. Benar, fanatisme dan ketidakjujuran adalah sumber segala keburukan.

        Saya netralis. Jadi saya tidak antiproduk Microsoft. Saya pun mencari inspirasi dari produk-produk Apple, saya hargai betul seninya. Saya hanya memakai software sesuai kebutuhan saya. Dan seirama persis dengan akang, saya mengakui “…tidak boleh menggunakan OS-software bajakan…”.

        Ingin rasanya kelak saya bisa berjumpa dengan akang. Namun di tengah kesibukan akang, saya tidak mau mengganggu. Saya harap akang bisa nyaman bekerja denga iPhone/iPad/MacBook dan mesin Windows akang. Itu alat yang akan menunjang betul kerja akang. Sama sekali saya tidak meragukannya. Saya akan senantiasa rindu untuk berbincang kembali dengan akang. Dan saya rindukan kelak, jika akang ada waktu, untuk menulis posting berjudul “Saya Kembali Menggunakan GNU/Linux” suatu hari nanti. Barangkali dari akang nanti lahir perusahaan FOSS sebesar Red Hat.

        Terima kasih atas posting monumental ini. Saya berharap agar akang tidak menghapus posting ini buat selamanya.

        Barakallahu fiikum.

        ——————————
        nb: jika memang Linux itu sederhana dan mudah, mengapa hacker sekelas Miguel de Icaza pergi dari FOSS ke Apple? Lack of FOSS yang senantiasa menanti untuk diperbaiki.

      2. bang berly Post author

        Terima kasih Mas Ade atas komentarnya.
        Jujur… setiap openSUSE meluncurkan versi baru, saya sangat tergoda untuk mencicipinya. Yah… minimal secara virtual. Tapi terbentur ke kapasitas HDD yang sudah semakin tipis. Minimal ruang yang disediakan sebesar 5 GB.
        Semenjak laptop Acer Aspire “hancur lebur” 1 (satu) tahun lalu, maka interaksi saya dengan GNU/Linux praktis berhenti. Walau sekarang saya menggunakan New Smartfren Android Tab 7″ (penulisan komentar ini menggunakan alat tersebut), tetap belum menggantikan keasyikan menggunakan GNU/Linux.
        Sering saya celetuk ke rekan-rekan yang demikian “bangga” menggunakan smartphone ber-OS Android, “kalau ponselnya sudah Android, kapan berani menggunakan GNU/Linux?”
        Dari pertanyaan sederhana tersebut maka akan muncul beragam tanggapan. Dimulai dari “Linux itu susah gak, Mas?”
        “Apakah semua hardware didukung oleh Linux?”
        “Ada aplikasi apa saja di Linux?”
        “Ada game apa saja di Linux?”
        “Mendukung pekerjaan kita, gak?”
        “Pake Linux susah gak, Mas?”
        “Nanti kalau ada masalah, cari solusinya mudah, gak?”
        Dan lain-lain.
        Posisi saya sendiri adalah user biasa. Dan saya tidak memiliki kemampuan coding apapun. Benar-benar user yang lebih dominan menggunakan aplikasi Office Suite (sebut saja Microsoft Office khususnya Excel).
        LibreOffice sudah saya install pada pc desktop maupun laptop (termasuk MacBook Pro) namun sifatnya sebagai backup kalau-kalau ada file Excel yang corrupt atau kolega saya memang bekerja pada aplikasi LibreOffice atau OpenOffice. Jadi masih belum menjadi aplikasi yang utama.
        Saya sangat setuju dengan tulisan Mas Ade tentang pematangan aplikasi. Itu tepat untuk user merangkap konsumen biasa seperti saya.
        Saya juga setuju dengan tulisan Mas Ade tentang penyederhanaan GNU/Linux. Karena kesederhanaan dimasukkan sebagai filosofi atau DNA Apple. Kesederhanaan dimulai dari proses install (sehingga risiko kehilangan data diminimalkan), kesederhanaan tatap muka (user interface), dan lain-lain.
        Dan juga kesederhanaan itulah yang melatarbelakangi saya menginginkan GNU/Linux seperti Macintosh. Kita beli komputer (baik jenis desktop, laptop, netbook, notebook, tablet) dimana di dalamnya sudah ter-instal GNU/Linux yang khusus dan sudah disetting sesuai hardware yang ada sehingga menghasilkan performa yang gahar namun terlihat sederhana.
        Walau Dell sudah menghadirkan laptop khusus, tapi sepengetahuan saya masih belum bisa menjangkau semua kalangan.
        Dan saya sangat setuju dengan tulisan Mas Ade tentang perolehan kesederhanaan ditempuh dengan jalan yang lebih rumit. Dengan perumpamaan rumus luas persegi dengan rumus luas lingkaran, jelas akhirnya lebih membuka mata dan pemikiran saya.
        Jauh sebelumnya saya membeli buku biografi Steve Jobs lalu buku lain tentang produk Apple.
        Aktor desainer yang berjasa besar bagi Appe adalah John Ivy. Dia terpengaruh oleh Dieter Rams.
        Keduanya sangat fokus atas fungsi produk yang dihasilkan dan (harus) sederhana. Sebab produk yang terlalu ramai akan pernak-pernik atau fitur yang berlebihan, justru akan mengaburkan fungsi utama produk tersebut.
        GNU/Linux sepertinya belum bisa menyamai kesederhanaan filosofi Apple. Yang dimungkinkan juga karena belum ada atau belum banyak produsen pc yang menerapkan hal tersebut.
        Saya menaruh harapan kepada Red Hat selaku pemegang merk RHEL lalu Novell selaku pemilik merk SLED/SLES, barangkali saja akan muncul produk desktop/laptop/tablet yang betul-betul fokus seperti halnya Apple. Tapi hingga kini belum ada.
        Saya sangat iri dengan perkembangan Android.
        Bahkan orang yang sebelumnya belum mengenal Android-pun berani untuk membelinya dan akhirnya bisa berkarya dengan santainya tanpa khawatir kehilangan data seperti pengalaman saya dulu. Hehehe…
        Ada satu lagi Mas Ade tentang kesederhanaan ini. Kata John Ivy pada buku yang saya baca, “Untuk memperoleh kesederhaan, kita harus menaklukkan kerumitan (kompleksitas).”
        Sekali lagi, perumpamaan rumus luas persegi dan lingkaran adalah hal yang sangat tepat.
        Bahkan Steve Jobs selalu memaksa sumber daya manusia yang bekerja di Apple, khususnya para insinyur desainer dan perangkat keras, untuk selalu mewujudkan produk yang sederhana, ringan, dan dalam penggunaannya tidak boleh melebihi 3 (tiga) tahapan atau swipe atau klik dan lain-lain.
        Wah… malah jadi ajang curhat tanggapan saya ini. Hehehe…
        Senang berkenalan dengan mas Ade.

      3. Ade Malsasa Akbar

        Luar biasa. Mungkin akang menganggap dirimu akang user biasa. Namun akang tidak bisa membohongi saya bahwa akang punya semangat hacking yang bagus. Bagi saya, esensi dasar hacking adalah mengatasi keterbatasan. Dari awal sampai akhir komentar, sejak kemarin, akang selalu melakukannya.

        Saya memang baru-baru ini saja tahu Linux, dan saya fakir wawasan mengenai Mac. Saya mendapat tambahan yang luar biasa dari komentar akang ini. Sudah saya duga pasti ada mekanisme yang memaksa desainer untuk meminimalisir jumlah klik, eh ternyata memang ada. Terima kasih. Ini bisa jadi bahan untuk maju. Saya ingin sekali langsung menautkan halaman ini berikut komentar-komentarnya nanti kalau ada orang yang fanatis atau yang serius memperbaiki Linux. Akan sangat menyenangkan!

        Mengenai rumus matematika itu, itu kata-kata jonass. Saya hanya mengambilnya. Dan saya mengakui itu.

        Memang benar, saya akui. Untuk memperoleh kesederhanaan, kita harus menaklukkan kerumitan. Saya tahu akang sendiri menyadari ini dari daily hack akang. Saya pun sadar sejak saya mulai tahu rumitnya Linux. Apalagi pas tahu Miguel de Icaza hengkang dari Linux.

        Sejujurnya, saya belum tahu bagaimana instalasi aplikasi di Mac OS. Apakah cukup diklik 2 kali langsung terinstal atau bagaimana, saya tidak tahu. Pastinya kesederhanaan yang saya rindukan. Dan model instalasi seperti itulah yang saya harap ada di Linux.

        Akar semua permasalahan Linux sekarang menurut saya adalah leadership. Karena tiada kepemimpinan, maka tidak ada yang melobi perusahaan hardware untuk membuatkan driver Linux. Padahal yang pertama harus ada ketika sebuah OS ingin dijual (disebarluaskan) adalah driver. Saya sadari ini, akhirnya, saat booming Android. Linux jadi ada leader (Google) yang disegani perusahaan hardware. Akhirnya bisa betul-betul mengganggu pasar Apple dan Microsoft dalam 1 segmen pasar. Dan tambah jelas lagi saat saya membaca laman ini http://www.wikivs.com/wiki/Apple_Innovation_vs_Microsoft_Innovation. Saya turut apa yang akang katakan, andai insinyur Apple membuat Mac OS seperti Linux, artinya mau instal modem harus wvdial dulu (baca: menyusahkan user), saya yakin dia akan langsung dipecat. Saya pribadi bisa saja konek modem via wvdial dan saya bersyukur akan itu tetapi untuk semua user pada umumnya, saya tidak tega. User harus diwajibkan sedikit klik saja untuk melakukan hal yang diinginkan, bukan malah habiskan waktu untuk konfigurasi. Dan sudah sewajarnya mesin yang melayani manusia, bukan sebaliknya. Saya merasa Windows dan Mac OS-lah yang betul-betul melakukan itu. Linux belum sempurna.

        Lebih senang lagi hati saya karena saya telah mengenal akang. Bahkan dalam menjawab komentar dari orang kayak saya, akang tunjukkan adab berbicara yang baik. Akang tidak memakai bahasa sms untuk orang yang akang ajak bicara. Ini harganya mahal (bagi saya) dan ini menunjukkan kelas penuturnya. Mohon ini dipertahankan.

        Dan saya mohon akang untuk tidak memaksakan waktu untuk membalas komentar saya. Saya takut mengganggu waktu kerja akang.

  5. vicry

    Mungkin seharusnya GNU/Linuxpun bisa mengikutinya.
    ———————-
    Harus nya penulis tahu kalau linux itu berbentuk Yayasan dan bukan perusahaan. tidak di tunjang dengan asset berjuta2 dollar
    dan ini berkaitan dengan dibawa dari mana dan kemana Linux di bawa kedepannya
    http://www.linuxfoundation.org/about/faq#Why_was_The_Linux_Foundation_formed.3F

    Mengapa tidak GNU/Linux meminta Microsoft menyediakan Microsoft Office for Linux?
    —————————-
    siapa itu Gnu/Linux ? Linux bukan corporasi yg di pegang oleh CEO atau Stockholder yang berkepentingan mencari keuntungan dan expansi sebesar2nya. tapi di pegang oleh Board Director dimana Board Director (dari masing2 platinum member terdiri dari perusahaan besar spt Intel, Qualcomm, HP sampai Fujitsu) ini masing2 mempunyai veto dalam menetukan langkah dan development juga demi keuntungan mutu perusahaan mereka masing2.
    Linux di gerakan oleh orang2 yang benar2 membutuhkan

    Mengapa tidak GNU/Linux meminta para pengembang game menyediakan game mereka dalam platform GNU/Linux dengan teknologi openGL-nya (yang tidak terkekang dengan DirectX Microsoft)?
    ——————————–
    Valve sudah memulai.

    Mengapa tidak GNU/Linux bekerja sama dengan vendor ternama membuat desktop dan notebook yang diformulasi khusus layaknya iMac dan MacBook (Pro-Air)?
    ————————-
    sudah banyak vendor yang masuk jajaran silver sampai platinum member linux foundation, ada Fujitsu, HP, Dell (alienware aja ada yg khusus linux/ubuntu). dan ini sudah lama, sama spt orang mau pake OSX yg harus beli Mac. jadi kalau mau pake linux vendor apa yang harus dipilih. problem nya adalah ketidak tahuan kita dalam memilih vendor (ACER bukan member)

    Mengapa tidak GNU/Linux menghadirkan operating system yang begitu indah – cantik serta telah memiliki segudang fitur layaknya iWork dan iLife dari Apple?
    ——————————
    konklusi Linux foundation tidak bisa di samakan dengan Apple.

    Reply
    1. bang berly Post author

      Terima kasih Mas Vicry atas kunjungan dan berkenan menuliskan komentar di blog ini. Salam kenal.
      Mengenai status atau jenis badan usaha Linux yang berupa yayasan (Linux Foundation), saya sudah tahu sejak lama.
      Dan semakin jelas setelah membaca link yang Mas Vicry sertakan. Memang Yayasan Linux ini bersifat non profit.
      Namun saya memiliki pemikiran “aneh” mengenai jenis usaha Yayasan. Terutama dikaitkan dengan laba atau keuntungan atau profit.
      Sebenarnya bisa sajakan bentuk usaha Yayasan tapi berorientasi profit atau mengambil profit yang layak atau wajar sehingga tidak terlalu membebani konsumen?
      Yah itu pemikiran “aneh” saya saja.
      Lalu terkait dengan penyediaan aplikasi Microsoft Office untuk platform GNU/Linux. Saya pernah membaca artikel dimana Microsoft selama ini melewatkan keuntungan jutaan dolar (potential loss) karena hingga kini tidak menghadirkan apps Microsoft Office untuk iOS dan Android (http://m.tempo.co/read/news/2013/02/15/072461631/iPad-Tanpa-Office-Microsoft-Rugi-Rp-24-Triliun).
      Mengapa hal ini tidak diutarakan juga pada platform GNU/Linux? Sebut saja Microsoft melepaskan jutaan dolar karena tidak menghadirkan software Microsoft Office platform GNU/Linux. Terlepas (Yayasan) Linux tidak memiliki aset jutaan dolar namun sudah memiliki pengguna yang besar.
      Kenapa saya utarakan hal tersebut? Karena Microsoft memang badan usaha yang berorientasi pada profit untuk going concern perusahaan mereka dan keuntungan lainnya. Jadi pendekatan yang mungkin mujarab adalah penawaran keuntungan yang mungkin mereka lewatkan (potential loss).
      Karena keterlambatan Microsoft memasuki pasar iOS dan Android, maka bermunculan apps iWork dari Apple pada iPad dan iPhone, Kingsoft Office, Doc2Go dan lain-lain. Dimana perolehannya tidak gratis jika ingin terbebas dari iklan atau untuk memunculkan fitur lain.
      Saya membenarkan pendapat Mas Ade Malsasa Akbar tentang kepemimpinan pada lingkungan GNU/Linux yang hingga kini belum sesuai harapan (tidak seperti Google yang menjadi komandan atas pergerakan Android).
      Lalu masalah game. Betul banget Mas Vicry. Valve sudah memulainya. Dan kita harapkan ke depannya akan lebih banyak produsen game terkenal seperti Konami dengan PES-nya hadir juga di platform GNU/Linux.
      Sewaktu saya masih bersemangat mencoba beragam distro GNU/Linux pada laptop Acer Aspire dan pc desktop di rumah, saya dihadapkan pengalaman yang berbeda.
      Walaupun Acer tidak termasuk keanggotaan Yayasan Linux, tapi laptopnya sangat Linux Friendly. Berbeda dengan pc desktop rakitan (jangkrik) yang tidak bisa menerima beragam distro karena masalah kernel.
      Dari sinilah saya berfikir, memangnya susah sekali bagi Menneg BUMN untuk mengeluarkan peraturan bagi produsen perangkat keras komputer (khususnya jenis rakitan sendiri) untuk membuat produk mereka siap menerima GNU/Linux?
      Mungkin Mas Vicry sudah tahu kalau disemua kemasan atau dus atau bungkus perangkat keras para produsen lebih memilih mencantumkan Windows 7-8 Ready serta MacOS Ready dibandingkan GNU/Linux Ready.
      Ketentuan tersebut menurut saya dibutuhkan untuk mendukung gerakan FOSS serta membantu Yayasan Linux walau tidak langsung.
      Juga Menneg BUMN bisa meniru langkah Pemerintah Cina yang mewajibkan produsen komputer untuk menyertakan OS legal pada tiap pc yang dijual (http://www.republika.co.id/berita/shortlink/49908). Jadi para produsen dilarang menjual laptop atau dekstop non-OS hanya untuk sekedar menekan harga jual.
      Selanjutnya mengenai produsen komputer yang sudah menerapkan langkah Apple dimana produk tersebut memang didedikasikan hanya untuk OS GNU/Linux.
      Kendalanya adalah setiap saya membaca brosur baik berupa kertas maupun online, lalu window shopping pada pameran komputer atau toko komputer, produk khusus GNU/Linux tersebut tidak diungkap (atau memang tidak disediakan?). Seluruhnya sudah ter-install Windows. Jadi mana saya tahu?
      Demikian tanggapan dari saya. Terima kasih atas kunjungan Mas Vicry.

      Reply
  6. Dio Affriza

    Wah, pemikiran yang bagus sekali. Ternyata ada orang yang memiliki keterbukaan yang sama dengan pemikiran terbuka. Saya memang pendekar opensource, tapi tidak semudah itu, ternyata banyak kelemahan-kelemahan dibalik penggunaan ditro Linux, termasuk kehilangan data. Tulisan agan bagus sekali, butuh waktu untuk saya menemukan ide seperti ini, bisa terpikirkan sampai prinsip Apple dan Microsoft. Tapi sungguh maaf saja buat distro Lokal yang kebanyakan asal-asalan, tidak konsisten, membuat end-user kehilangan banyak waktu.

    Senang sekali, ternyata saya tidak sendiri di dunia maya yang fana ini.😀

    Reply
    1. mautauaja

      Terima kasih atas kunjungan Mas Dio Affriza dan bersedia menulis komentar di blog ini. Hatur nuhun…
      Kalau saya dituliskan memiliki keterbukaan yang sama dengan pemikiran terbuka, wahhh… kok sepertinya saya juga tidak seperti itu, Mas. Hehehe…
      Latar belakang penulisan ini karena memang gemes alias gregetan dengan perkembang GNU/Linux yang seakan terkotak dan memandang OS lain yang berbayar dan terbukti memang bagus diposisikan sebagai lawan yang dijauhi. Belum lagi kalau dikaitkan issue jumlah devisa yang keluar.
      Kadang pemikiran tersebut aneh buat saya.
      OS berbayar hindari penggunaannya, tapi harga hardware yang digunakan (seperti pc rakitan) tidak termasuk hitungan atas devisa negara yang keluar. Hehehe…
      Kalau dikaitkan dengan Microsoft menerapkan harga yang terlalu tinggi atau over price, sebenarnya itu hak prerogatifnya Microsoft. Alias suka-suka Bill Gates lah. Orang dia yang punya produk kok. Mau diapakan lagi. Bahkan kalau produk Microsoft digratiskan pun, itu suka-suka Microsoft juga.
      Yang penting adalah jangan menggunakan OS-software bajakan, khan?
      Bagi saya yang telah bekerja sebagai pegawai, dimana tuntutan pekerjaan saya membutuhkan software khusus platform Windows dan perangkatnya sudah disediakan, ya sudah… saya pakai saja. Selesai.
      Tapi tetap Mas Dio, saya menaruh harapan besar terhadap GNU/Linux. Tidak hanya sebagai OS, tapi memiliki aplikasi yang tidak kalah dengan aplikasi berbayar seperti Microsoft Office yang memang luar biasa bagus.
      Bahkan pada platform OS X-pun, Microsoft Office platform Windows masih jauh lebih lengkap fiturnya dan lebih mudah digunakan.
      Demikian tanggapan saya.

      Reply
  7. Agus-Ariyanto

    Perbandingan yang sangat tidak seimbang
    GNU/Linux : Komunitas
    Apple/Microsoft : Korporasi
    Apa mungkin karang taruna akan se terkenal Garuda

    Karena memang komunitas maka tujuannya adalah memecahkan masalah untuk komunitasnya, bukan untuk memecahkan masalah semua orang..

    Masalah GNU/Linux adalah masalah pakem atau benang merahnya,
    lihat Microsoft atau Apple ,masing-masing mengembangkan operating system dengan arah yang jelas.

    Tapi lihat pada GNU/Linux, berapa banyak distro, berapa banyak ‘forking’ dari distro belum lagi desktopnya, aplikasinya, coba dikembangkan sendiri oleh komunitas plus remasteran ala amatir .. kemana arah mereka ?

    Reply
    1. bang berly Post author

      Terima kasih atas kunjungan Mas Agus-Ariyanto.
      Saya setuju klo GNU/Linux atau Linux Foundation dibandingkan dengan korporat seperti Apple dan Microsoft, jawabannya pasti tidak sebanding.
      Tulisan ini dilatarbelakangi setelah saya menggunakan OS Windows (pekerjaan rutin)-GNU/Linux-OS X (dulu sebutannya MacOS).
      Dari penggunaan ketiganya berikut perangkat yang berbeda, menghasilkan kesan yang berbeda.
      Intinya saya masih mengiginkan GNU/Linux sebaik dan sebagus produk Apple (malah lebih bagus lagi), atau seheboh Android yang didukung penuh oleh Google dan produsen hardware lainnya.

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s